Tugas Softskill
Jika isi batin terbangun, maka terbuka perasaan. Jika perasaan terbuka, akal tak menjadi kaku
melulu rasional-intelektualistik, melainkan jadi akal yang diterangi budi. Nah, inilah yang disebut akal budi. Jadi, cinta adalah perkara akal budi. Hanya akal-budi yang mampu menerangkan penghayatan. Cinta adalah soal penghayatan atau pengalaman individu dalam suatu suasana tertentu.Karena itu, cinta adalah suasana. Sebuah situasi yang dialami pribadi- pribadi tertentu. Yakni suasana manakala hati, akal-budi dan batin bangkit dan merasa bebas dan bahagia. Kebebasan dan kebahagiaan adalah kata-kata kunci untuk memahami cinta. Bebas dan bahagia tidak ada, adalah tanda tak adanya cinta. Namun untuk memetik kebebasan dan kebahagiaan itu acapkali sukar, pelik dan penuh ranjau. Ini menuntut keberanian dan tekat. Yakni tekat untuk menyadarkan perasaan sendiri, bahwa mengenai cinta, tak ada norma di luar diri yang bisa mengukur atas menghakimi isi hati dan akal-budi perseorangan.
Cinta kasih, kasih sayang, kemesraan, pemujaan, dan belas kasihan merupakan bagian
hidup diri manusia. Bentuk-bentuk kehidupan yang dipenuhi rasa cinta kasih dan kasih
sayang dapat membangkitkan kreativitas manusia. Untuk mengungkapkan rasa kasih
sayang dan cinta kasih dapat melalui beberapa media. Melalui media bahasa, lahirlah
seni sastra; dengan media garis, warna, dan bentiik, lahirlah seni rupa; dengan media
nada, irama, dan suara, lahirlah seni musik, dan lain-lain.
Pengkajian makna seni budaya sebagai manifestasi cinta kasih, kasih sayang, dan belas
kasihan terutama yang berkaitan dengan norma, moral dan nilai dimaksudkan untuk
mengembangkan kepribadian dan wawasan pemikiran. Hal mi. berarti akan
memperluas daya tanggap, persepsi, dan penalaran mengenai fakta seni budaya yang
dihadapi keseharian.
Menurut Purwodarminto, cinta kasih adalah perasaan sayang, perasaan cinta, dan
perasaan suka pada seseorang. Secara sederhana cinta dapat dikatakan sebagai paduan
rasa simpati antara dua makhluk. Rasa simpati ini tidak hanya berkembang di antara
pria dan wanita, akan tetapi dapat pula di antara pria dengan pria atau wanita dengan
wanita. Dalam kehidupan keluarga, kasih sayang atau cinta kasih merupakan kunci
kebahagiaan. Dalam kasih sayang, sadar atau tidak sadar dan masing-masing pihak
dituntut rasa tanggung jawab, pengorbanan, kejujuran, saling percaya, saling
pengertian, saling terbuka, sehingga keduanya merupakan kesatuan yang utuh. Bila
salah satu unsur kasih sayang itu hilang, sebagai misal tanggung jawab, maka retaklah
keutuhan rumah tangga itu. Kasih sayang yang tidak disertai kejujuran juga dapat
mengancam kebahagiaan rumah tangga yang telah terbina.
Agar dapat memahami cinta kasih secara mendalam, berikut akan diuraikan tentang
cinta dalam kehidupan sehari-hari yang selalu menjadi masalah hangat untuk
diperbincangkan. Dalam membina gerakan cinta, yang pertama perlu cepat disadari
bahwa yang disebut cinta sama sekali bukan nafsu. Sulit dihindari bahwa atas dasar
cinta murni yang dirasakan seseorang terhadap orang lain yang berlawanan jenisnya,
akhirnya akan bermuara pada perkawinan, yang akan berlanjut pula pada hubungan
seksual. Oleh karena itu, rasanya sulit diterima bahwa seseorang menyatakan cinta
sejati. Perbedaan cinta dengan nafsu dapat dijelaskan sebagai berikut :
a. cinta bersifat manusiawi. Pada manusia cinta dapat tumbuh dan berkembang,
sedangkan pada binatang hanya terbatas pada nalurinya untuk melindungi.
b. cinta bensifat rohaniah, sedangkan nafsu sifatnya jasmaniah. Luapan cinta seseora
memberikan semangat dalam hidupnya dan bagi yang menerimanya dirasakan
sebagai kebahagiaan. Sementara nafsu yang jasmamah cenderung untuk
memuaskan dorongan seksual.
c. cinta menunjukkan perilaku memberi, sedangkan nafsu cenderung menuntut.
Pemberian cinta dilakukan secara halus karena rohaniab sifatnya, sedangkan
dorongan nafsu mudah dilakukan sebagai paksaan.
Menurut Fromm (1983), cinta itu terutama memberi bukan menerima dan memberi
merupakan ungkapan paling tinggi dan kemampuan. Hal yang paling penting dalani
memberi adalah yang sifatnya manusiawi, bukan materi. Cinta selalu menyatakan
unsur unsur dasar tertentu, yaitu pengasuhan, tanggung jawab, perhatian, dan
pengenalan. Dalam pengasuhan, contoh yang paling sederhana adalah cinta kasih
seorang ibu dalarn mengasuh anaknya dengan sepenuh hati. Tanggung jawab adalah
suatu tindakan yang benar benar berdasarkan atas suka rela, seperti hubungan antara
ayah dengan keluarganya.
Berbagai Bentuk Cinta
Dalam buku “Seni Mencintai”, Fromm (1983) mengartikan cinta sebagai sikap, suatu
orientasi watak yang menentukan hubungan pribadi dengan dunia keseluruhan, bukan
menuju satu “objek” cinta. Ta mengemukakan tentang macam-macam cinta, yaitu
cinta persaudaraan, cinta keibuan, cinta erotis, cinta diri sendiri, dan cinta pada Allah
SWT. Bersumber dari cinta-cinta tersebut, manusia memberikan kasih sayangnya
kepada yang lain, terutama kepada sesama manusia dalam mewujudkan hubungan
pnibadinya.
1. Cinta Persaudaraan
Cinta persaudaraan (agape dalam bahasa Yunani) diwujudkan manusia dalam
tingkah laku atau perbuatannya.Batas-batas manusia yang berdasarkan suku bangsa, bangsa, ataupun agama. Dalam
cinta mi semua manusia sama, yaitu sebagai makhluk ciptaan Allah.
Cinta persaudaraan pada umumnya melekat dengan sikap tanpa pamrih. Secara
filosofis dibuatkan dengan jargon “cintailah sesamamu seperti engkau
mencintaidirimu sendiri”.
2. Cinta Keibuan
Kasih sayang yang bersumber pada cinta keibuan yang paling ash adalah yang
terdapat pada seorang ibu terhadap anak kandungnya. Seorang ibu yang
memperoleh benih anak dan suaminya tercinta akan memeliharanya secara hatihati dan penuh kasih sayang. Setelah anak lahir melalui penderitaan yang hebat dan
ibu, dirawat dan diasuhlah anak dengan penuh kasih sayang. Dalam proses
pengasuhan itu terdapat serangkaian tugas yang harus dilakukan ibu, yaitu
menyusui, merawat, menemani, memandikan, membelai, dan sebagainya. Bagi
seorang ibu tidak ada harta yang paling berharga kecuali kehadiran anak, yang
dianggap sebagai buah hati.
3. Cinta Erotis
Kasih sayang yang bersumber dan cinta erotis (sifat membirahikan), memang
merupakan suatu yang sifatnya eksklusif sehingga sering memperdayakan cinta
yang sebenarnya. Hal mi terjadi karena antara cinta dan nafsu dipersepsikan secara
sama. Padahal jika dicermati secara seksama, keduanya memihiki pengertian yang
berbeda bahkan bertolak belakang. Kasih sayang dalam cinta erotis merupakan
kontak seksual yang ash dan yang ideal bersumber dan cinta. Kasih sayang erotis
dapat menjadi perekat hubungan suami istri dalam membina hidup berkeluarga.
4. Cinta Diri Sendiri
Pada din individu, di samping harus mencintai sesama juga ada keharusan
mencintai din sendiri (self love). Banyak orang menafsirkan bahwa cinta kepada din
sendiri identik dengan & Jika hal mi yang terjadi maka cinta pada din sendiri int
nilai negatif. Namun esensi mencintai din sendiri Incrigurus din sendiri sehingga
kebutuhan jasmani dan rohaninya terpenuhi secara wajar. Setiap individu wajib
niencintai dininya sendiri.
5. Cinta pada Allah
Cinta pada Allah merupakan perwujudan pengabdian manusia ketika hidup di
dunia. Orang yang cinta pada Allah umumnya disebut religius atau taat beragama.
Eksistensi manusia adalah koeksistensi. Tidak ada manusja yang bisa hidup sendirian
tanpa adanya orang lain, dan kekuatan yang menyatukan manusia dengan manusia lain
ialah cinta. Relasi antara manusia tidak akan berarti tanpa didasarkan atas cinta.
Cinta membuat “aku” dan “kamu” menjadi “kita”. Dan “kita” adalah communion
(kebersamaaan). Untuk mencapai kebersamaan yang ideal diperlukan keterbukaan dan
kesediaan tiap manusia untuk membangun relasi antar pribadi yang bersifat
kreatif, maka jelaslah bahwa cinta merupakan kebutuhan dasar bagi perkembangan
hidup manusia
Kunci memahami cinta adalah pengalaman pribadi, maka ukuran atau normanya
adalah pribadi yang bersangkutan. Norma cinta adalah anda sendiri, diri kita sendiri
yang mencinta. Kitab suci, peraturan dan segala wasiat para bijak atau nabi hanyalah
alat bantu. Sebab pada akhirnya terpulang pada diri kita sendiri. Norma utamanya
adalah anda sendiri, kita sendiri. Norma-norma di luar diri kita, adalah tetek-bengek,
yang jika mengganggu, tak usah digubris!
Cinta, pada hakekatnya yang terdalam, adalah pembebasan dan pemerdekaan diri. Dan
pembebasan selalu membahagiakan. Ini hanya bisa dirasakan oleh orang yang
bersangkutan, anda sendiri, kita sendiri. Rahasia cinta letaknya bukan di buku-buku
atau nasehat dukun atau psikiater, melainkan dalam batin kita sendiri. Cinta adalah
perkara membangunkan isi batin kita sendiri.
DIALEKTIKA KASIH VERTIKAL:
Cinta Manusia terhadap PenciptaNya
Semua agama yang dikenal manusia, memandang dunia sebagai ujian, gelanggang
tempat manusia ditempa menjadi makhluk yang lebih mulia. Dunia adalah sejenis kelas
di mana manusia dididik untuk mengembangkan kapasitas-kapasitasnya.
Dalam sejarah, setidaknya ada dua kutub besar pandangan tentang dunia sebagai
gelanggang. Kutub pertama adalah mereka yang melihat dunia sebagai kelas taman
kanak-kanak. Mereka ini memang menganggap bahwa manusia pada dasarnya adalah
bocah culun yang mungkin saja semurni malaikat tetapi sangat mudah menjadi mangsa
setan. Manusia bahkan dianggap sangat gampang menjadi setan itu sendiri.
Dalam sepetak kelas taman kanak-kanak, kehadiran sebuah otoritas kasat mata,
sangatlah diperlukan. Sebuah kelas kanak-kanak tanpa kehadiran seorang guru yang
disegani, akan segera berubah menjadi kancah kacau-balau, yang pada akhirnya hanya
akan merugikan kanak-kanak manis dan murni itu sendiri. Sekejap saja sang guru
hilang dari pandangan anak-anak mungil itu, maka sejumlah anak mulai naik berdiri di
atas bangku dan menyanyi bersahut-sahutan sekencang-kencangnya dengan nada yang
mungkin sumbang. Sebagian lagi mulai main kejar-kejaran, saling sambit kue lalu saling
jambak rambut yang kemudian disertai dengan acara tangis-tangisan — acara yang
sebelumnya sudah dimulai oleh gadis-gadis mungil centil yang sembari bangkit
membetulkan rambut dan kancing bajunya mengeak tersinggung dianggap tak cukup
jago main dokter-dokteran. Anak-anak yang lebih pendiam mungkin akan mulai
menggambari dinding kelas dengan sosok ajaib yang wajahnya adalah paras sang guru
namun tubuhnya mungkin serupa kodok atau kura-kura. Jika seorang anak menemukan
korek api, tak mustahil kelas yang indah itu akan dibakar menjadi api unggun.
Para penganut agama yang berjuang keras untuk mewujudkan syariah yang dipeluknya
di dunia ini, adalah kaum yang dekat dengan kutub yang memandang dunia sebagai
kelas taman kanak-kanak ingusan. Kalangan yang penuh tenaga membara ini, kadang
disebut oleh pihak-pihak tertentu sebagai barisan fanatik, gerombolan bigot. Namun
demikian, mereka juga bisa dilihat sebagai kelompok yang sangat peduli pada
keselamatan ummat dan dunianya yang dilihat sebagai kanak- kanak dengan kelasnya
yang gampang rusak. Atas nama keselamatan ummat, mereka bersedia melakukan apa
saja, dan mengorbankan apa pun, termasuk milik mereka yang paling berharga: nyawa
mereka sendiri. Bagi mereka, untuk meyelamatkan ummat dari kebangkrutan, maka
otoritas yang kukuh harus dihadirkan di dunia, sebagaimana dihadirkannya sang guru
di tengah kelas taman kanak-kanak. Guru yang hadir sebagai pusat kelas, selain
menciptakan tatanan, juga bisa membantu langsung murid-murid yang mengalami
kesulitan.
Dorongan besar untuk menyelamatkan sesama ummat, adalah hal universal dalam diri
manusia. Bahkan bisa dikatakan bahwa evolusi terbesar yang dicapai spesies manusia
adalah berkembangnya dorongan untuk mengorbankan diri sendiri demi keselamatan
kelompok yang lebih besar. Sebagai sesuatu yang universal, dorongan ini tentu tidak
hanya tumbuh dalam satu agama atau mazhab tertentu saja. Karena potensial tumbuh
di mana pun, sementara ajaran-ajaran agama dan mazhab bisa tampak tak senantiasa
seiring, maka tak jarang dorongan universal ini saling tabrak, saling tumpas. Agamaagama atau mazhab-mazhab yang bertarung untuk menyelamatkan ummat ini, sangat
sering terseret ke kancah yang oleh Karen Armstrong disebut sebagai “Berperang Demi
Tuhan”. Barangkali sebutan yang lebih tepat untuk gejala besar ini adalah “Berperang
Menghadirkan Tuhan, Demi Menyelamatkan Ummat”. Dalam rentetan peperangan
yang usianya hampir setua usia peradaban manusia itu, banyak hal yang memang
kemudian tergilas.
Yang paling gampang tergilas, atau setidaknya yang paling sering jadi sasaran dalam
perang tua itu, adalah kutub pandangan dunia yang lain, yang juga memandang dunia
ini sebagai kelas, namun bukan sebagai ruang taman kanak-kanak melainkan ruang
para mahasiswa dan mahasarjana. Dunia buat mereka adalah kelas yang memang
sedang menjalankan ujian kenaikan tingkat di mana mereka boleh membawa buku
sebanyak-banyaknya. Dalam ujian itu, yang terpenting adalah mengerti soal ujian dan
berupaya memecahkannya, bukan ada tidaknya sang mahaguru di tengah kelas. Sosok
fisik sang mahaguru bahkan sebaiknya tak ada lagi di tengah ruang, mondar-mandir
bersiul dan berdeklamasi dengan pengeras suara menganggu konsentrasi. Perjuangan
untuk menghadirkan sang mahaguru di kelas, peperangan untuk menghadirkan jeratanjeratan kognitif manusia atas Tuhan di dunia, adalah kesibukan yang buat mereka
benar-benar tak masuk akal sehat. Mustahil mahaguru yang baik akan hadir di tengah
kelas, lalu membantu khusus satu dua mahasiswa yang berlumur do’a dan airmata
untuk mengisi kertas-kertas ujian mereka, sambil tak lupa meng-order para malaikat
agar menjerumuskan seluruh mahasiswa yang asik berpikir dan tak sempat berdo’a
saking takjubnya. Kalau pun ada mahaguru yang seperti ini, ia tentulah bukan
mahaguru yang layak disapa.
Karena ketidak-pedulian mereka pada sosok fisik sang mahaguru, kelompok kutub kelas
mahasiswa ini sering disebut agnostik, sekuler, bahkan atheist. Apapun sebutan yang
dikenakan pada mereka, namun mereka yang sibuk mengerjakan soal-soalnya dan rakus
membaca semua buku yang tersedia, adalah kaum yang selalu mendapat angka yang baik. Bahwa mereka inilah yang perlahan-lahan mengubah dan memperbaiki dunia, semua itu hanya menunjukkan betapa sang mahaguru yang
memberi nilai adalah memang mahaguru yang sungguh mahaadil.
Sejarah peradaban manusia sekian ratus tahun terakhir agaknya cenderung
memenangkan mereka yang melihat dunia ini sebagai kelas mahasiswa. Tuhan
tampaknya memang memaksudkan dunia ini sebagai kelas ujian untuk manusia yang
setingkat mahasiswa dan mahasarjana. Sir Mohammad Iqbal, penyair dan pemikir yang
menjadi bapak spiritual Pakistan itu, bahkan menandaskan betapa manusia adalah
mitra kreatif Tuhan. Namun, jumlah manusia yang melihat dunia ini sebagai kelas
taman bocah, bahkan padang penggembalaan ternak, dengan penghuni yang harus
selalu dilindungi karena dikepung pemangsa dan tak bisa mendidik diri sendiri itu,
agaknya tak juga susut, bahkan semakin berkembang biak. Kesibukan yang penuh darah
dan kekerasan untuk menghadirkan secara nyata Tuhan di dunia, tak juga surut dari
waktu ke waktu. Agaknya, keadaan inilah yang membuat seorang penyair yang lain
mengeluh: Tuhan memperlakukan manusia sebagai mahasarjana, tetapi manusia
cenderung memperlakukan diri dan memandang sesamanya sebagai kanak-kanak
ingusan belaka. Kalau ada kesalahan Tuhan, kata sang penyair pada bagian lain
sajaknya, maka itu adalah bahwa Ia menaruh harapan terlalu tinggi dan memandang
terlalu mulia ciptaan-Nya sendiri.
Keluhan dan penilaian seperti itu, memang lebih mudah datang dari seorang penyair
yang sentimentil, dan agak sulit terbit dari seorang rasionalis tulen yang menyadari
keterbatasan bahasa dan pikiran manusia, dan mengakui ketakmampuannya untuk
berbicara tentang hal-hal yang menyangkut ketuhanan yang tak berbatas. Pengakuan
seperti ini pula yang membuat para rasionalis-agnostik lebih suka diam, meskipun juga
tetap sanggup mengapresiasi sang penyair dan semua yang masih juga “rindu rasa
rindu rupa” dan memilih mengarahkan diri sepenuhnya pada manusia dan dunia ini,
seperti para mahasiswa memumpunkan perhatiannya pada soal-soal ujian di depan
mata.***
Hakim Yang Manusia
Hakim Yang Manusia
Setiap hari kita menghakimi orang lain, baik yang kita kenal dalam kehidupan seharihari maupun yang kita kenal melalui kata-kata dan gambar. Manusia menganggap
pikiran dan pengetahuannya sendiri yang paling benar. ltulah yang merupakan pasalpasal dan perundangan dirinya untuk menghakimi orang lain. Manusia lain itu penuh
kesalahan dan dirinyalah yang paling benar.
Kebenaran
Kebenaran
Apakah salah dan benar itu? Salah dan benar itu paradoks. Sesuatu dinilai benar oleh
guru, di mata murid-murid salah. Benar menurut tentara, salah besar menurut rakyat.
Benar oleh orang kelaparan, salah bagi mereka yang kekenyangan. Ahli pikir yang satu
berseberangan dengan ahli pikir yang lain. Jadi, mana yang benar dan mana yang salah?
Setiap orang mempunyai "kebenaran" sendiri. Dan kebenaran itulah yang dipakai untuk
menghakimi yang lain. Nilai salah dan benar seperti itu pada dasarnya adalah
pengetahuan, yaitu pendidikan. Jadi, bersifat subyektif, baik individual maupun
kolektif. Setiap orang dididik untuk belajar pasal-pasal kebenaran dan kesalahan dalam
berbagai versinya. Dan seperti kita lihat, bisa saling bertentangan. Yang benar dinilai
salah, yang salah dinilai benar, tergantung dari "ajaran" mana Anda berasal.
Saling ngotot dalam mempertahankan kebenaran masing-masing hanya mungkin
diakhiri dengan perang. Pengetahuan saya yang hidup atau pengetahuan Anda yang
mati. Tetapi, salah dan benar itu berupa tindakan, peristiwa, nyata ada dan semua
manusia mampu melihatnya. Salah dan benar itu juga obyektif. Kejadiannya memang
demikian. Perbuatan dan tindakannya memang demikian. Itulah yang ada, yang terjadi,
menyejarah. Dan, penghakiman itu juga nyata. Penghakiman itu bukan hanya terjadi
dalam kepala. Penghakiman itu empirik.
Membunuh dan menganiaya dalam pikiran itu boleh-boleh saja, tetapi kalau
penghakiman itu mengetok palu pada kehidupan ini, maka yang mati benar-benar mati,
yang luka itu benar-benar menderita. Inilah nilai-nilai yang terasa, terhayati, eksisten,
dunia itu sendiri
Menghakimi dalam pikiran itu, selama belum dinyatakan dalam perbuatan, adalah
urusan tiap orang. Tetapi, begitu dinyatakan dalam pengalaman, ia telah menyangkut
banyak orang. Entah ia dinyatakan, dalam ucapan lisan atau tertulis, dan lebih-lebih
dalam peristiwa
Hati Nurani
Hati Nurani
Benar dan salah itu bisa dicari dalam bentuk peristiwa itu sendiri, bukan dari pasalpasal pikiran subyektif. Nilai-nilai benar dan salah tersebut telah ada dalam bentuk
tindakan. Dan pasal-pasalnya tidak bisa ditulis atau diungkapkan karena berada di
kedalaman nurani manusia. Kebenaran obyektif itu bersifat spirifual. Orang banyakmenyebutnya "Hati Nurani". Dari anak-anak sampai kakek-kakek, dari yang bodoh
sampai yang tinggi pengetahuan, dari yang berkuasa sampai yang dikuasai, dari satu
ajaran kebenaran sampai ajaran kebenaran yang lain, dari yang termiskin sampai yang
kaya raya, semua memiliki kebenaran itu. Tetapi kebenaran itu ada di lubuk hati
manusia. Biasanya baru disadari dalam renungan yang mendalam.
Penghakiman, menentukan benar dan salah, adalah kesesuaian antara hati nurani dan
peristiwanya sendiri. ltulah keadilan. Hati nurani melihat, manusia tidak melihatnya.
Bertindak adil, menghakimi secara adil, adalah penghakiman hati nurani yang melewati
proses perenungan yang tidak sederhana.
Kebenaran Subyektif
Kebenaran Subyektif
Kalau manusia mau bertindak sebagai hakim, ia harus cerdas secara subyektif. Orang
ini menyadari, nilai-nilai kebenarannya subyektif, dan karena itu terbatas. Untuk itu ia
harus terbuka, toleran, mau mendengar "kebenaran-kebenaran" yang lain. Hakim yang
bodoh adalah hakim yang berkacamata kuda. Hanya melihat satu arah dan tidak mau
mendengarkan arah kiri kanan dan belakang. Sejarah membuktikan, penghakiman
seperti ini memakan korban seperti disebutkan Pram, Socrates, Galileo, Bruno, dan
ribuan yang lain.
Jika manusia mau bertindak sebagai hakim juga harus cerdas secara spiritual, maka ia
bukan hanya harus terbuka bagi pengalaman empiriknya, tetapi juga terbuka bagi
pengalaman transendennya. Kepekaan transenden kadang menghasilkan sesuatu yang
paradoksal dipandang dari pengalaman empirik atau ajaran "baku" subyektifnya.
Kebenaran yang nyleneh, di luar kebiasaan. Kebenaran nurani kadang menyakitkan bagi
yang berkacamata kuda.
Hakim manusia yang terbuka dan reflektif itulah yang obyektif, yaitu hakim yang cerdas
emosi dan spiritualnya. Ia mampu melihat kebenaran dan kesalahan yang melampaui
batas-batas kebenarannya yang subyektif, personal, maupun kolektif. Kejujuran pada
diri sendiri itulah yang dibutuhkan. Kebenaran yang padanya saya menyatakan ya,
bernilai positif dan saya butuhkan, selalu lebih besar, lebih luas, dan lebih dalam dari
dunia ini. Orang kadang melakukan perbuatan benar atau salah di luar dugaan siapa
pun sehingga orang dibuat bingung untuk menilainya
Ibunya Cinta, Ayahnya Keikhlasan
Ibunya Cinta, Ayahnya Keikhlasan
Hujan, sungai, dan laut
Anak-anak di sekolah dasar hanya sedikit yang bisa bergelar doktor nantinya. Pejalan
kaki ke dalam diri juga sama. Amat sedikit yang bisa sampai di puncak gunung, seperti
Rumi, Mandela, dan Gandhi. Sebagaimana dicontohkan alam, kebanyakan orang
memulai perjalanan seperti hujan. Jalannya kencang, menghujam setiap hal yang ada
di bumi. Ini yang bisa menjelaskan mengapa sebagian lebih generasi muda mengisi
keseharian (belajar, bekerja) sambil bernyanyi lirik lagu maju tak gentar, membela yang
bayar.
Semangat, keras, dan penuh tenaga, itulah tanda-tanda manusia yang baru sampai di
sini. Sebagian politikus, akademisi, dan pengusaha yang penuh ambisi ada dalamkelompok ini. Namun, air hujan mana pun begitu menyatu dengan sungai mulai
kehilangan sebagian sifat-sifat kerasnya. Aliran air sungai menghadiahkan kelembutan
pada air hujan. Kendati di bagian-bagian tertentu air sungai masih keras dan ganas
(seperti air terjun atau banjir bandang), di kebanyakan waktu dan tempat, air sungai itu
lembut.
Persis seperti pemandangan sungai yang ditandai barang keras seperti batu serta barang
lembut berupa air, demikian juga dengan manusia yang sudah bertumbuh sampai tahap
ini. Ada kalanya ia tegas dan keras (seperti tentara yang sedang berperang), ada saatnya
lembut bak seorang pelayan. Pemimpin agung umumnya meramu ketegasan dan
kelembutan dalam campuran yang sempurna. Tatkala menghukum, ia setegas batu.
Ketika melayani, ia selembut air.
Hanya persoalan waktu, air sungai akan sampai di laut. Dan di laut seluruh kekerasan
dan kelembutan (baca: dualitas) lebur menjadi satu. Pencapaian berjumpa laut seperti
inilah yang dialami oleh orang-orang seperti Nelson Mandela, Dalai Lama, Jalalludin
Rumi, hingga Mahatma Gandhi. Tempat lahir, agama, dan negara mereka memang
berbeda, tetapi ada yang sama di antara mereka: melakukan semuanya dengan cinta,
menerima hasilnya dengan keikhlasan.
Orangtua spiritual
Melihat hanya segelintir manusia yang bisa memasuki wilayah laut, ada kepolosan mau tahu
silsilah spiritual manusia- manusia jenis ini. Ia mengingatkan pada cerita tentang anak
kampung yang melihat tukang balon terbang. Suatu hari anak dengan uang pas-pasan ini
melihat tukang balon terbang berjualan laris sekali. Ketika pembelinya sudah sepi, tukang
balon memompa balon warna lain. Dengan polos anak kampung bertanya: ”Bang
memangnya warna hitam bisa terbang juga?”. Dengan sabar, tukang balon menjawab:
”Nak, bukan warna luar yang membuat balon bisa terbang, tetapi sesuatu yang ada di
dalam”.
Dalam bahasa Vivekananda: when the blossoms vanish, the fruits appear. Tatkala bunganya
layu, buahnya muncul. Bila penampilan luar (pujian, kekayaan) sudah mulai kehilangan
daya tariknya, ada penampilan dari dalam (rasa syukur, rendah hati) yang muncul sebagai
pengganti. Itu sebabnya laut merendah, mensyukuri apa saja yang datang. Hasilnya, laut
agung tidak terkira. Ia yang berguru pada laut sedalam ini sudah menemukan orangtua
spiritualnya.
Sebagai Ibu, laut adalah simbolik cinta karena apa saja yang datang diolah penuh cinta.
Sebagai ayah, laut adalah wakil keikhlasan sempurna karena menerima apa saja tanpa
keserakahan memilih. Inilah silsilah spiritual manusia-manusia agung, Ibunya cinta,
Ayahnya keikhlasan. Dalai Lama pernah berpesan, If you want others to be happy, practice
compassion. If you want to be happy, practice compassion. Mempraktikkan welas asih,
itulah rahasia kebahagiaan.
Dalam bahasa seorang guru Mahamudra, If one can rest the mind naturally, that’s the
supreme meditation. Saat batin bisa beristirahat secara alami, itulah puncak meditasi.
Keikhlasan berkontribusi besar dalam membuat batin beristirahat dalam kealamian. Ibarat
burung elang yang terbang indah di angkasa, demikian juga kehidupan yang berjumpa
orangtua spiritualnya: ikhlas, bebas, dan lepas.
Cinta membuat semuanya berguna, bermakna.
Gede Prama
Lukisan Indah Kebijaksanaan
Lukisan Indah Kebijaksanaan
Terowongan gelap tidak berujung, mungkin itu metafora kehidupan zaman ini.
Kekayaan kehidupan anak-anak biasanya harapannya akan masa depan. Dan, saat tua
tidak sedikit yang membanggakan masa lalu.
Keadaannya mirip kucing yang mengejar bayangannya sendiri. Pada pagi hari (masa
muda) bayangannya ada di barat dikejar dan tidak ketemu. Pada sore hari (umur tua)
bayangannya ada di timur, lagi-lagi dikejar juga tidak ketemu. Sadar bahaya ini, ada
yang memotong lingkaran kegelapan dengan meyakini kehidupan berawal pada masa
sekarang dan berakhir pada masa sekarang.
Masa lalu telah berlalu, masa depan belum datang. Namun, melalui tindakan pada masa
kini, keduanya bisa dibuat kian terang atau gelap. Sebutlah Ibu yang sudah meninggal,
tetapi belum sempat dibahagiakan. Masa lalu membuat kehidupan kian suram jika masa
kini diisi penyesalan, rasa bersalah, tidak bisa memaafkan diri sendiri. Sebaliknya ini
bisa menjadi awal terang jika pengalaman tidak mengenakkan ini dijadikan titik awal
untuk banyak membahagiakan orang.
Guru sebagai cahaya
Inilah tanda-tanda manusia yang mulai terbimbing. Dalam setiap kejadian
(menyenangkan maupun menjengkelkan) ada cahaya bimbingan. Di Timur, ia disebut
munculnya guru simbolik. Tidak ada kebetulan, semua hanya bimbingan. Cuma,
sebagian bisa dimengerti kini, sebagian dimengerti nanti.
Sayang, amat sedikit manusia yang lahir di zaman ini memiliki berkah spiritual
berjumpa guru. Untuk itu, bagi orang-orang mengagumkan, seperti Jalalludin Rumi,
perjumpaan dengan guru adalah berkah spiritual yang amat disyukuri. Segelintir
sahabat yang berjumpa guru menyebutkan, hanya dengan mendengar namanya
sebagian ketakutan akan neraka langsung sirna.
Karena itu, tidak sedikit pencari yang menghabiskan waktu, tenaga, dan dana untuk
mencari guru. Idealnya, pencarian dimulai dengan berjumpa guru hidup. Lalu perintahperintah guru hidup ini diperkaya guru dalam bentuk buku suci. Ia yang sudah
memadukan guru hidup dengan buku suci lalu berjumpa guru simbolik dalam
keseharian. Puncaknya tercapai saat ketiga guru ini menjelma menjadi guru dalam diri.
Orang jenis ini seperti membawa lentera ke mana-mana. Tidak ada lagi kegelapan yang
tersisa.
Kematian
Bagi mereka yang belum diberkahi perjumpaan dengan guru hidup, disarankan
menjaga diri dengan etika. Praktik serius etika ini mungkin membimbing seseorang menjumpai guru simbolik. Di antara banyak guru simbolik, kematian adalah guru
simbolik paling agung.
Perhatikan pendapat Dzogchen Ponlop dalam Mind beyond death: ”in order to die well,
one must live well”. Agar matinya indah, belajarlah hidup secara indah (baca: hidup
penuh cinta).
Maka, tidak sedikit guru meditasi yang menggunakan kematian sebagai sumber air
perenungan yang tidak habis-habis. Pertama-tama meditator membayangkan tubuhnya
mati. Badan kaku, membiru, orang-orang dekat menangis dan seterusnya.
Diterangi cahaya keikhlasan, kematian terlihat sebagai kembalinya unsur badan ke
rumah aslinya. Unsur tanah kembali ke tanah, unsur air kembali ke air, unsur api
kembali ke api, unsur udara kembali ke udara, unsur ruang kembali ke ruang. Dalam
bahasa tetua Bali, kematian disebut mulih ke desa wayah (pulang ke rumah
sesungguhnya).
Ia yang merenungkan kematian menjadi lebih tenang, santun, baik, dan rendah hati.
Bukankah ketenangan dan kebajikan adalah teman paling berguna dalam kematian?
Selain itu, kematian juga berubah wajah menjadi guru simbolik yang membimbing
menapaki tangga kemuliaan. Mungkin ini sebabnya Santo Paulus mengemukakan l die
every day.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Sumber
Manusia dan cinta kasih book
Sumber
Manusia dan cinta kasih book









0 comments:
Post a Comment